WAKTU YANG TEPAT BUAT BELAJAR, APAKAH MESTI SEPERTI INI CARANYA?
Dari akhir tahun kemarin, sudah mulai kelihatan kalau masyarakat mengikuti dengan baik isu-isu politik internasional, terutama tentang agresi Israel ke Palestina. Ini bisa dilihat dari reaksi masyarakat menanggapi pemberitaan yang jadi headline di semua media ini, mulai dari isi pembicaraan sama teman-teman saat sedang ngobrol-ngobrol sampai berita tentang demonstrasi yang dilakukan oleh anak-anak SD untuk menentang perang ini.
Tentang yang terakhir ini, aku ngerasa ada yang tidak pada tempatnya. Pertama kali tahu tentang adanya aksi-aksi semacam ini dari berita yang memberitakan murid-murid sebuah SD di Surabaya saat melakukan ibadah di tepi jalan dan kemudian dilanjutkan dengan membakar atribut-atribut Israel. Kemudian, di berita-berita lain, di banyak daerah anak-anak usia sekolah dasar juga melakukan kegiatan yang sama, beberapa ada yang berorasi (hehe..aku yang mahasiswa aja baru ikut demo sekali, itu juga waktu ospek) dan melakukan happening art berupa roleplay suasana di Gaza sana, dengan anak yang berperan sebagai tentara yang menyandang senjata mainan dan pemeran korban yang pura-pura mati.
Sesuatu yang aku rasa enggak pada tempatnya tadi adalah cara yang dilakukan oleh pengajar dan juga orangtua anak-anak tadi untuk memperkenalkan isu tentang konflik Israel dan Palestina ini. Mungkin karena aku sendiri enggak pernah tahu sejarah konflik Palestina-Israel sampai aku sadar kalau semua orang bereaksi atau paling tidak paham tentang ini atau, singkatnya, mereka lebih maju dari aku. So, aku mulai cari tahu dan ketika teman-teman yang berbicara padaku mulai meng cross-check nya dengan bertanya apa yang sudah “digariskan” Tuhan menurut kitab suci agamaku, that’s my culdesac..geee.. (bahkan beberapa menjelaskan kepadaku,
“Na, di tempatmu bunyinya seperti ini lho.., menurut kitab suci mu orang Israel begini-begini”, aku yang enggak merasa punya keterikatan batin dan sejarah sama bangsa Israel enggak tahu harus komentar seperti apa..). Tapi sedikit demi sedikit aku mulai belajar paham inti dari permasalahannya dan mulai mengikuti pemberitaan terutama soal langkah-langkah yang ditempuh untuk menyelesaikannya.
Latar belakang dari konflik manapun pasti mempunyai beberapa versi, tergantung pada banyaknya pihak yang punya sudut pandang dan kepentingan berbeda di dalamnya. Sebagai pihak yang tidak ikut andil di dalamnya, tentu sebaiknya kita berusaha memahami masing-masing sudut pandang itu dan ketika tiba giliran untuk berempati, kita akan tahu pihak mana yang paling tepat mendapatkan empati kita. Ini adalah hak semua orang. Tapi bagaimana seharusnya mengekspresikan empati itu? Apakah satu-satunya cara memberikan pendidikan multikultural dan politik kepada anak-anak adalah dengan cara mengajak mereka turun ke jalan (yang bila dilakukan oleh orang dewasa kadang berujung dengan bentrok dan kekerasan)?
Apa yang dilakukan atau diajarkan pada anak-anak ini hanya menegaskan kepada mereka kalau ada beberapa perbedaan di dunia yang sudah mengakar dan menjadi alasan utama adanya perang. Selanjutnya, dengan membakar dan mengeluarkan kata-kata bernada kutukan dan ancaman, anak-anak belajar kalau akhir dari peperangan berarti kalah atau hancurnya satu pihak. Mereka kurang dibantu buat melihat kalau ada tujuan lebih penting yang harus diwujudkan, yaitu perdamaian dan berhentinya konflik tanpa ada catatan atau kelanjutan lagi. Padahal, jujur, aku merasa kalau apa yang diajarkan pada anak-anak ini patut diberi penghargaan. Anak-anak ini nantinya bisa tumbuh dengan kepekaan yang tinggi tentang isu-isu sosial yang ada dan dapat berpikir dengan lebih kritis. Mereka bisa mendalami suatu permasalahan dan tidak memandang suatu keadaan sebagai sesuatu yang harus diterima apa adanya.
Seorang temanku bilang, dulu waktu dia SD dan perang teluk berlangsung, anak-anak di kelasnya sering meneriakkan yel yang sama dengan yang sering terdengar dari anak-anak SD saat ini. Sementara itu di sekolahku, kami tidak mengalaminya karena term of reference yang berbeda. Ini bukanlah soal siapa di pihak yang mana tapi tentang mengolah pikiran dan perasaan anak-anak agar tidak selalu menggunakan kata “lawan”. Pun banyak hal yang memang harus diperjuangkan dalam hidup tapi kita selalu dihadapkan pada pilihan untuk menumpas atau menumbuhkan. Dan dalam kasus anak-anak ini, sebaiknya mereka diajarkan untuk menabur yang baik agar bisa menyemai cinta pada akhirnya.
Kak Seto said,”Anak-anak bukanlah orang dewasa mini. Mereka sebaiknya diajarkan untuk berpendapat dengan cara yang lebih santun”.
Menurutku, sebaiknya mereka diajari untuk berpendapat dengan bahasa yang mereka pahami, bukan dengan bahasa yang dipaksakan untuk mereka pahami.