Ini NANA!!

semakin berpura-pura tahu segalanya..

WAKTU YANG TEPAT BUAT BELAJAR, APAKAH MESTI SEPERTI INI CARANYA?

Filed under: fake plastic live — nanashichi at 2:38 am on Monday, January 12, 2009

Dari akhir tahun kemarin, sudah mulai kelihatan kalau masyarakat mengikuti dengan baik isu-isu politik internasional, terutama tentang agresi Israel ke Palestina. Ini bisa dilihat dari reaksi masyarakat menanggapi pemberitaan yang jadi headline di semua media ini, mulai dari isi pembicaraan sama teman-teman saat sedang ngobrol-ngobrol sampai berita tentang demonstrasi yang dilakukan oleh anak-anak SD untuk menentang perang ini.

Tentang yang terakhir ini, aku ngerasa ada yang tidak pada tempatnya. Pertama kali tahu tentang adanya aksi-aksi semacam ini dari berita yang memberitakan murid-murid sebuah SD di Surabaya saat melakukan ibadah di tepi jalan dan kemudian dilanjutkan dengan membakar atribut-atribut Israel. Kemudian, di berita-berita lain, di banyak daerah anak-anak usia sekolah dasar juga melakukan kegiatan yang sama, beberapa ada yang berorasi (hehe..aku yang mahasiswa aja baru ikut demo sekali, itu juga waktu ospek) dan melakukan happening art berupa roleplay suasana di Gaza sana, dengan anak yang berperan sebagai tentara yang menyandang senjata mainan dan pemeran korban yang pura-pura mati.

Sesuatu yang aku rasa enggak pada tempatnya tadi adalah cara yang dilakukan oleh pengajar dan juga orangtua anak-anak tadi untuk memperkenalkan isu tentang konflik Israel dan Palestina ini. Mungkin karena aku sendiri enggak pernah tahu sejarah konflik Palestina-Israel sampai aku sadar kalau semua orang bereaksi atau paling tidak paham tentang ini atau, singkatnya, mereka lebih maju dari aku. So, aku mulai cari tahu dan ketika teman-teman yang berbicara padaku mulai meng cross-check nya dengan bertanya apa yang sudah “digariskan” Tuhan menurut kitab suci agamaku, that’s my culdesac..geee.. (bahkan beberapa menjelaskan kepadaku,

“Na, di tempatmu bunyinya seperti ini lho.., menurut kitab suci mu orang Israel begini-begini”, aku yang enggak merasa punya keterikatan batin dan sejarah sama bangsa Israel enggak tahu harus komentar seperti apa..). Tapi sedikit demi sedikit aku mulai belajar paham inti dari permasalahannya dan mulai mengikuti pemberitaan terutama soal langkah-langkah yang ditempuh untuk menyelesaikannya.

Latar belakang dari konflik manapun pasti mempunyai beberapa versi, tergantung pada banyaknya pihak yang punya sudut pandang dan kepentingan berbeda di dalamnya. Sebagai pihak yang tidak ikut andil di dalamnya, tentu sebaiknya kita berusaha memahami masing-masing sudut pandang itu dan ketika tiba giliran untuk berempati, kita akan tahu pihak mana yang paling tepat mendapatkan empati kita. Ini adalah hak semua orang. Tapi bagaimana seharusnya mengekspresikan empati itu? Apakah satu-satunya cara memberikan pendidikan multikultural dan politik kepada anak-anak adalah dengan cara mengajak mereka turun ke jalan (yang bila dilakukan oleh orang dewasa kadang berujung dengan bentrok dan kekerasan)?

Apa yang dilakukan atau diajarkan pada anak-anak ini hanya menegaskan kepada mereka kalau ada beberapa perbedaan di dunia yang sudah mengakar dan menjadi alasan utama adanya perang. Selanjutnya, dengan membakar dan mengeluarkan kata-kata bernada kutukan dan ancaman, anak-anak belajar kalau akhir dari peperangan berarti kalah atau hancurnya satu pihak. Mereka kurang dibantu buat melihat kalau ada tujuan lebih penting yang harus diwujudkan, yaitu perdamaian dan berhentinya konflik tanpa ada catatan atau kelanjutan lagi. Padahal, jujur, aku merasa kalau apa yang diajarkan pada anak-anak ini patut diberi penghargaan. Anak-anak ini nantinya bisa tumbuh dengan kepekaan yang tinggi tentang isu-isu sosial yang ada dan dapat berpikir dengan lebih kritis. Mereka bisa mendalami suatu permasalahan dan tidak memandang suatu keadaan sebagai sesuatu yang harus diterima apa adanya.

Seorang temanku bilang, dulu waktu dia SD dan perang teluk berlangsung, anak-anak di kelasnya sering meneriakkan yel yang sama dengan yang sering terdengar dari anak-anak SD saat ini. Sementara itu di sekolahku, kami tidak mengalaminya karena term of reference yang berbeda. Ini bukanlah soal siapa di pihak yang mana tapi tentang mengolah pikiran dan perasaan anak-anak agar tidak selalu menggunakan kata “lawan”. Pun banyak hal yang memang harus diperjuangkan dalam hidup tapi kita selalu dihadapkan pada pilihan untuk menumpas atau menumbuhkan. Dan dalam kasus anak-anak ini, sebaiknya mereka diajarkan untuk menabur yang baik agar bisa menyemai cinta pada akhirnya.

Kak Seto said,”Anak-anak bukanlah orang dewasa mini. Mereka sebaiknya diajarkan untuk berpendapat dengan cara yang lebih santun”.

Menurutku, sebaiknya mereka diajari untuk berpendapat dengan bahasa yang mereka pahami, bukan dengan bahasa yang dipaksakan untuk mereka pahami.

rembang petang..

Filed under: yes, I mean it's a poem — nanashichi at 10:42 pm on Tuesday, January 6, 2009

bulan malam datangkan gelombang
di rembang petang
hanya kisik sepi yang menari sampai telinga
dan aku sebenarnya tak ingin dengar
tapi tak ada satupun kerja harus kulakukan

padahal inilah saat,
rembang petang yang sudah seharian kunantikan
waktu sedikit yang sebenarnya terbatas
hanya sekedar lewat barang sesaat
seperti saat ini,
aku akan berusaha terdiam
dengan pikiran-pikiran tertanggalkan di sekitar kakiku

aku tak akan peduli soal keindahannya
karena saat gelap begini,
tak banyak yang akan terlihat oleh mata
dan tak akan ada yang sampai ke hati kecuali jingga
soal bintang yang lamat-lamat mulai muncul
biar mereka saja yang tangkap sinarnya

rembang petang munculkan perasaan haru aneh yang kadang menyebabkan malu
bahkan seseorang sepertiku tak luput dari sesuatu setipikal itu
karena walaupun bukanlah akhir
penantian hari ini sudah cukup terbayarkan

tapi bukanlah lebih layak
bila rembang petang datang saat aku tak sedang berharap

ERASED

Filed under: fake plastic live — nanashichi at 5:07 am on Saturday, January 3, 2009

kalau seseorang menghapusmu dari hidupnya apa yang akan kau lakukan?

butuh jawaban segera..karena rasa sakitnya masih sama

ADA YANG LEBIH PANTAS MENERIMA KEABADIAN (DARIPADA BELLA SWAN)

Filed under: nana means silly and fools — nanashichi at 10:07 pm on Wednesday, December 17, 2008

Awalnya aku mikir akan memberi judul “Inilah Mengapa Aku Tidak Menaruh Respek pada Bella Swan” pada posting ini. Tapi, kayaknya aku bakal terkesan seperti fans-nya Edward Cullen yang patah hati (padahal, kenyataannya aku gak cuma nge fans Edward aja,hehe..aku maniak vampire dari kecil, kecuali vampire mandarin yang kayaknya gak punya otak itu lho..jadi agak2 gak rela gara2 Edward jatuh cinta sama cewek terdekat yang bisa merangsang syaraf penciumannya..coba pergi ke sini, Edward, cuma 2 jam dari Bali,hehe..).

jadi, ini clear, tidak ada persaingan di sini, karena aku cuma pengen memaparkan bagaimana tidak positifnya Bella Swan dan kurangnya pertimbangan untuk dia bisa mendapat keabadian.

Awalnya, dari Twilight yang dipinjam adekku dari temannya, aku menangkap kesan kalau buku itu lebih menyoroti pada kegalauan masa remaja, lebih menonjol daripada alur hubungan romantis beda spesies itu. Intinya, teenlit yang ditulis dengan sudut pandang remaja sekali. Baguslah, pikirku. Tapi untuk kapasitas tokoh teenlit, si Bella ini malah mengajarkan beberapa hal yang mungkin kurang bisa diterima dalam kultur masyarakat kita, atau pada perkembangan remaja sendiri.

Pertama, Bella menunjukkan pesimistik yang berlebihan saat dia mau masuk ke sekolah baru dan ke lingkungan tempat tinggal barunya. Sepertinya, Bella tidak siap atau malah bersikap masa bodoh terhadap konsekuensi dari keputusan-keputusan yang diambilnya di awal cerita. Kedua, Bella banyak sekali berbohong kepada orangtua dan teman-temannya untuk memudahkannya dalam melakukan berbagai hal. Kesalahan terbesar dari kebohongan-kebohongan itu bukan terletak pada perilaku tidak jujurnya, namun pada upaya menarik dan menutup diri dari lingkungan sekitar. Pada Bella, semua hal itu berpuncak pada transisinya menjadi vampire, di dunia nyata, sikap introvert yang berlebihan ini kemungkinan berujung pada bunuh diri atau hal lain yang sama merugikannya.

Dan yang paling membuat aku berpikir kalau seharusnya keluarga Cullen (sebagai voter dari pertanyaan Bella>>”apakah sebaiknya aku menjadi vampire seperti kalian”) harus mempertimbangkan dengan lebih bijak untuk dalam mengambil keputusan soal keabadian Bella adalah kenyataan bahwa Bella berpikir bahwa kehidupan tidak cocok dengannya. Kalau begitu, kenapa keluarga itu tidak bersikap bahwa mereka adalah makhluk dalam mitos yang tidak perlu dipercaya keberadaannya dan memberikan Bella satu-satunya pilihan saat dia (secara kasarnya) bosan hidup. Bayangkan, ada berapa banyak perempuan dengan kehidupan yang jauh lebih sulit dari Bella dan membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengerjakan hal-hal urgen dapat terbantu, bila mereka memikirkannya dari segi itu. Bella juga merendahkan sifat manusia yang (pernah) ada dalam dirinya. Berkali-kali, di buku terakhir (Breaking Dawn), Bella menyebutkan bahwa menyakitkan bila ia harus mengingat-ingat apa yang dialaminya saat ia masih menjadi manusia.pendengaran dan penglihatan yang tajam serta ingatan yang lebih sulit untuk diulang bila dibandingkan dengan kapasitas yang dimiliki vampire. Padahal, dengan keterbatasannya, manusia belajar untuk menjadi lebih bijak, untuk mengatur sedemikian rupa hal-hal terbatas yang menjadi anugerah baginya. Mengapa dia tidak menyukai nafas ketika dia benar-benar membutuhkannya dan malah lebih menghargai penglihatan mendetail yang bisa mengenali pelangi dari pendar cahaya (padahal tanpa perlu melihat itu, kita pun sudah sangat terbantu).

Bella Swan memang harus dipertimbangkan lagi untuk jadi tokoh utama. Kalau untukku, tokoh utama yang lebih cocok adalah dia yang dapat menjadi lebih kuat dengan adanya perhatian dan kasih dari orang-orang di sekelilingnya, bukan seorang impulsif yang bertindak sesuai dengan apa yang ia pikirkan soal kebaikan bagi orang lain, bukan apa yang dirasakan oleh orang2 itu sendiri.

SEMUA MATA TERTUJU PADAMU

Filed under: my communique thought — nanashichi at 10:04 pm on Wednesday, December 17, 2008

Inget gak itu tagline dari program TV yang mana?

Kalau emang gak tau, atau pura2 gak tau gara2 takut dijulukin satpamnya TV, aku kasih tau deh..kata2 itu ada di iklan audisi Miss Celebrity nya SCTV yang udah final beberapa hari lalu. Yup, iming2 kontrak kerja sebanyak 500 juta (kalo gak salah) dan jaminan mata semua orang tadi diberikan kepada cewek-cewek yang merajut mimpi mereka di tengah keadaan dunia yang sedang enggak jelas ini (hehe..enggak banget deh kata2nya). Intinya, terkenal dianggap sebagai cita-cita semua cewek..pukul rata, dan yang berhasil berarti mendapat mukjizat yang sangat besar.

Padahal..sebenernya jalan buat jadi terkenal itu enggak sesulit berjibaku dengan banyak cewek cantik yang multi talent itu. Sekarang, cukup dengan ngirim e-mail ke salah satu reality show yang bejibun di TV itu, kamu bisa mendadak famous dan mengajak beberapa orang terdekatmu ikut serta (walau mereka gak pengen dan mungkin terpaksa). Misal e-mail mu yang mengharu biru memikat hati redaksi acara Termehek-mehek, kamu bakal didatangi sama mereka yang kemudian berbaik hati mengurus kasusmu, dalam acara ini, mencari orang hilang tepatnya. Dan mulailah petualangan beberapa hari a la detektif bagi kamu dan dua host acara itu. Kamu mau bocoran biar kamu sukses nampang dan memikat hati penonton? Ini saranku sebagai seorang maniak Termehek-mehek, bersikaplah kooperatif di acara tersebut, jangan banya nuntut, jangan ngecengin host cowoknya (hyia..hyia..), jangan bawel, tahan emosi kalo ketemu hal2 yang gak diduga, dan tampillah sesuai dengan yang digambarkan (kalo kamu emang lagi kesulitan, jangan dandan lebay lah..)

Berangkat dari situ, kamu bisa berakhir dengan dikenal orang banyak, kamu juga bisa mengajak target2 yang kamu sasar, mereka bisa aja pacar yang sudah menghamilimu, ibumu yang punya profesi terlarang, orang yang bener2 benci sama kelakuanmu, dan lain-lain..

Dalam satu episode, privasi mereka dan juga privasi mu jadi gak ada nilainya lagi. Mungkin pihak stasiun TV berhasil membantumu mengungkap kebenaran, tapi mereka juga memperoleh rating bagus, pemasukan iklan yang banyak, dan..apa yang kamu dapat di akhir acara? Sedikit kenyataan yang mungkin gak kamu harapkan (walaupun sebenarnya, apa kamu menetapkan harapan saat memutuskan memberikan dirimu sebagai konsumsi publik seperti ini?), dan bagi mereka..mungkin hancurnya kepercayaan yang dibangun selama ini, nama buruk, dan entah akhir yang seperti apa ketika pihak yang dituding tidak dapat menanggung akibatnya.

PS: aku enggak menyalahkan adanya acara-acara reality show sejenis yang aku sebut di atas.aku penonton setia mereka. Bahkan aku menikmati pagi hari dengan rentetan menu gosip segar. Tapi kadang aku menontonnya berulang-ulang, di stasiun TV yang berbeda, yang menunjukkan tendensi dan sentimen beragam, sambil merasa miris kalau ketenaran itu sungguh mahal harganya, dan dalam kasus yang pertama, bahwa media massa sudah menjadi tempat bersandar bagi banyak orang, sehingga semua permasalahan bisa diserahkan kepadanya, tanpa memikirkan dampak terbesarnya.

KISAH PASIR

Filed under: yes, I mean it's a poem — nanashichi at 9:36 pm on Thursday, November 20, 2008

pasir menipis
seraya menghambur ke wajah jalanan
adakah yang rasa
kalau dia coba tanya
“ke mana angin akan bawaku lagi?”

“mari,” kata angin padanya
“lihatlah ke mana langkah membawamu,
dan setelah kau tahu,
akan kau urungkankah sanggupmu itu?”

pasir membias
coba terbang dengan sisa tenaga
tilas energi dari tapak kaki mereka yang lalu
sekarang ini bukan tempat asalnya
pun bukan yang ingin ia tuju

dan lalu,
dengan riang angin membawanya
ke seharusnya pasir berdiam

lagi, angin berujar,
“pahamkah kau?
setelah kau tahu, mengapa kau pikir bisa mengubahnya?”

OALAH..AGUS..

Filed under: my communique thought — nanashichi at 8:32 pm on Monday, November 17, 2008

Iklan. Advertising. Sangat mudah bagi kita untuk jadi seorang ahli periklanan. Tak perlu sekolah di jurusan ilmu komunikasi dengan begitu lama dan tidak kunjung selesai (seperti aku). Cukup luangkan waktu beberapa saat di depan televisi pada jam-jam yang sama setiap harinya dan (mungkin) kamu akan memahami mengapa iklan itu perlu dibuat, dan terlebih, mengapa iklan itu tetap saja dibuat.

Iklan dulu sangat dibenci. Tahun ’90-an awal, ketika kita baru tahu apa itu yang disebut TV swasta, kehadiran iklan di sela-sela tayangan favorit seperti Doraemon, Knight Rider atau MacGyver terasa sangat mengganggu. Jadi ingat, dulu waktu SD, jamannya tebak-tebakan jayus, kami punya kepanjangan sendiri dari RCTI, yaitu Ramai Cerita Terpotong Iklan. Ketika TV swasta baru mulai bersiaran, aku bahkan menyangka kalau acara yang sedang disiarkan termasuk iklan juga karena muncul silih berganti dengan iklan-iklan itu. Misalnya Doraemon. Ketika dia muncul lagi dengan judul cerita yang baru, aku berpikir kalau itu adalah iklan Doraemon lagi, acara nya sendiri pasti ditayangkan entah kapan. Yang pasti tanpa disela iklan-iklan aneh itu.

Lama kelamaan iklan merupakan hal yang ditunggu-tunggu. Anak-anak (yahh..contohlah aku) jadi tahu kalau ada barang-barang menarik yang tidak dapat ditemukan di toko-toko mainan yang biasa mereka datangi. Perihal mengapa barang itu tidak ada di sana, mereka baru mengetahuinya kemudian. Ketika menonton iklan, anak-anak mengeluarkan komentar bahwa mereka akan membeli mainan yang itu, dan yang ditayangkan di iklan setelahnya, dan setelahnya..

Sekarang iklan, walaupun hanya untuk barang-barang sehari-hari, yang mungkin dipaksakan keperluannya oleh para pengiklan itu, sudah menjadi fenomena yang mungkin mengalahkan siaran televisi sendiri. Iklan telah menjadi semacam trendsetter bagi gaya hidup. Apa yang dikatakan oleh tokoh-tokoh di iklan, minimal, bisa jadi bahan pembicaraan ringan. Tidak menyaksikan iklan yang dimaksud artinya akan sedikit tertinggal dalam hal hubungan sosial. iklan-iklan yang menjadi fenomena, yang tagline nya dikutip terus, mungkin hanya bermaksud menjual produk seperti halnya iklan lainnya. Tapi dampak yang lebih besar daripada meningkatnya penjualan adalah bahwa otak penonton televisi menjadi terstimulus dengan adegan dan kata-kata dari iklan tersebut.

Dampak tersebut entah disadari atau tidak oleh pihak produsen maupun biro iklannya. Iklan sudah berhasil menggeser cara pandang masyarakat terhadap suatu hal. Misalnya, dulu masyarakat menganggap ponsel beserta sim card (yang mahal) merupakan sarana unjuk diri dan status sosial. hal ini tak lepas dari sudut pandang yang dipilih para pengiklan dalam “menjajakan” produknya. Sekarang, ponsel merupakan sarana rekreasi yang murah. Tengoklah salah satu iklan kartu seluler yang menyebutkan kalau menelepon ke luar negeri tidak memakan biaya tinggi, jadi bisa dilakukan kapan saja dan ke nomor mana saja (tanpa tujuan yang jelas dan ada kemungkinan mengganggu orang lain). Dampak buruk dari pesan iklan ini tentu saja ada. Mungkin saja iklan ini memberi kesan kepada pengguna ponsel, terutama pengguna pemula, bahwa fungsi utama ponsel adalah sebagai sarana rekreasi dan bahwa ponsel termasuk jenis benda yang dapat dipakai tanpa harus memikirkan konsekuensinya.

Sebagai seorang penonton televisi yang kadang tertarik pada iklan-iklan yang kreatif, aku cukup dibuat penasaran ketika suatu produk makanan diiklankan dengan jargon “Soal kata, lidah bisa bohong..”. versi pertama iklan itu, yang dibuat cukup misterius tanpa petunjuk produk apa yang diiklankan membuatku membayangkan beberapa kemungkinan iklan seperti apa yang akan ditayangkan kemudian. Tapi ternyata eksekusinya adalah sebuah iklan klise (tentang tipikal cowok playboy) dengan jalan cerita yang bisa dikata tidak berhubungan, atau mungkin karena aku yang bebalberusaha coba-coba mengerti, yang bahkan sama sekali tidak bisa jadi salah satu iklan trendsetter.

Dampak iklan dari televisi ternyata sama besar dengan dampak siaran program televisi. kalau acara televisi dikatakan mempengaruhi perilaku kekerasan terutama pada anak-anak, maka iklan dapat disebut memicu konsumerisme, dan bahkan hedonisme, terlebih pada anak-anak pula. Iklan dan televisi pada umumnya telah meminta banyak sekali dari penontonnya. Ada baiknya iklan juga sedikit memberi. Walaupun hanya sekedar humor cerdas yang sesekali berguna untuk menstimulus syaraf otak kita.

SAAT TERAKHIR..

Filed under: nana means silly and fools — nanashichi at 10:30 pm on Thursday, November 6, 2008

Hei..ini bukan postingan serius kok..

Cuma sebentar lagi laptop ku habis batere (tuh, udah ada peringatannya di pojok kanan bawah)

Tapi tetep aja gak ad ide buat nulis apa. Yang jelas aku nulis ini dengan backsound lagu dari band temenku, Cameo. Judulnya gak usah kusebutin yahh, tapi ada satu kalimat yang bener2 nyantol

Apakah itu? Hoho..tentu saja gak ada hubungannya dengan cinta-cintaan yang jadi tema terbesar dari lagu ini (dan semua lagu2 di seluruh dunia,hehe..)

Biar bintang yang mendengar..

Merasakan kegalauan..

Hatimu..

tentu saja aku nulis ini dengan kegalauan yang teramat sangat, kegalauan tentang skripsiku. aku bener2 ngerasa berada di nowhere dan sekaligus stuck in the middle..haha..apa coba?

(sori ya, mas2 Cameo, lagumu aku artikan dengan sangat egois..masalahnya lagi bener2 gak ada hubungan dengan cinta-cintaan, hehe..kapan2 aku request lagu ke Damas, yang liriknya tentang orang yang patah hati karena skripsi..)

gtg sebelum benar2 habis batere..

MY CLOSEST

Filed under: yes, I mean it's a poem — nanashichi at 6:24 pm on Monday, November 3, 2008

when time going more unsure
Hope we are going better
because the hardest night have passed
and we only keep wait for the last

no more feel of fears
all we need to do just hear
hearing each heart that speaks
about life that could be so terrific

no wonder I could stay
cause it was you that always stand by
just thought about holding your hand
and I can run all of the plans

someday we will forget each other
making better day with another
but the destiny can’t be denied
that you always be my closest

LAGU HUJAN BARU

Filed under: yes, I mean it's a poem — nanashichi at 6:19 pm on Monday, November 3, 2008

biar hujan mengecupmu
biar dia menabuh irama dalam benakmu dengan tetes cair keperakannya
biar dia membuaimu dengan lagu tidurnya
biarkan dia, biarkan hujan membentuk genangan di pijakan kakimu
dan biarkan pula ia berkejaran dalam gorong-gorongnya
hujan akan menyanyikan lagu tidur sederhana di atap kita saat malam
dan aku mencintainya

(diterjemahkan dari “april rain song”-langston hughes, puisi tentang hujan paling bagus menurutku)

Next Page »